Rabu, 08 Juli 2015

Kutu Milenium yang Menggegerkan

Kutu Milenium yang Menggegerkan

 
 
 
 
 
 
 
Sebelum tahun 2000 menyingkat angka tahun dengan hanya menuliskan dua digit terakhir sudah menjadi hal yang biasa. Hal serupa juga terjadi dalam dunia komputer pada awal perkembangannya, para pemrogram bahasa komputer era sebelum tahun 1970-an sengaja menghilangkan dua digit pertama.

Langkah yang diambil para pemrogram ini bertujuan untuk menghemat pemakaian memori yang ada waktu itu masih sangat terbatas dalam kapasitasnya dan mahal harganya. Selain penghematan ruang memori pemrosesan data menjadi lebih sederhana dan cepat, apalagi kecepatan prosesor waktu itu juga tidaklah secepat sekarang.

Namun, persoalan ini kemudian menjadi problem yang sangat serius ketika memasuki tahun 2000. Bukan hanya menulis angka 00 untuk tahun 2000 menjadi aneh, tetapi dalam mesin prosesor komputer juga bingung mengalkulasi angka 00 dalam berbagai macam perhitungan aritmatika, termasuk mengomparasi ataupun dalam mengurutkan.

Angka 00 bukan hanya tidak bisa membedakan antara tahun 2000 dengan 1900 juga diperlakukan sebagai angka 0 dan akibatnya tidak terbayangkan jika ada fungsi perkalian atau pembagian dengan 0. Kesalahan yang menyebabkan kegagalan inilah yang disebut dengan kutu dalam bahasa pemrograman komputer yang dalam hal ini terjadi pada saat perulangan ribuan tahun atau milenium.

Persoalan menjadi tidak sederhana karena komputer yang sudah berkembang selama sekitar 40 tahun itu sudah sangat menggurita. Pada waktu itu masih ada ribuan sistem komputer tua yang masih digunakan dan mungkin tidak terdeteksi pemakaiannya. Khususnya dalam industri asuransi maupun keuangan yang tentu bisa menciptakan kekacauan jika tidak diketahui pemakaiannya.

Sekalipun bencana yang juga lazim disebut dengan Y2k itu bisa terlewati, tetapi para pakar komputer sekarang sudah kembali berancang-ancang menghadapi ancaman serupa, yaitu "Kutu 2038". Komputer dengan program waktu UNIX yang berbasis arsitektur 32 bit akan menghadapi masalah serupa pada 19 Januari 2038, tepatnya setelah pukul 03:14:07.

Basis waktu UNIX yang dimulai 1 Januari 1970 pukul 12:00:00 setiap hari akan bertambah 86400 detik dan menjelang detik bermasalah itu waktu sudah berjalan 2.146.483.547 detik pada 19 Januari 2038 03:14:07. Ini merupakan angka tertinggi dalam sistem waktu UNIX dalam pemrosesan bahasa mesin berbasis bilangan biner yang dikenal dalam sistem digital yang hanya memiliki angka 0 dan 1.

Detik (dalam desimal) 2.146.483.547 menjadi tertinggi dalam pemrograman jika dikonversikan dalam angka biner yang dikenal oleh mesin mikroprosesor 32 bit menjadi 01111111 11111111 11111111 11111110.

Maka satu detik berikutnya menjadi 2.146.483.548, ini bukan lagi detik tertinggi, di mana dalam pemrograman bahasa biner menjadi 10000000 00000000 00000000 00000000.

Perlu diketahui, dalam bahasa pemrograman, apabila bit penanda (yang paling kiri) bernilai 1 atau hidup (on), maka bilangan diperlakukan sebagai bilangan negatif. Jadi nilai bilangan itu sebenarnya -2.146.483.548 dan nilai minus ini jika dihitung mundur mulai dari 1 Januari 1970, maka bilangan itu menunjukkan tanggal 13 Desember 1901. Jelas ini akan menjadi ancaman kekacauan kedua bagi komputer setelah kutu milenium jika tidak diantisipasi.

Padahal, arsitektur komputer kebanyakan saat ini masih 32 bit dan bahkan masih ada yang 16 bit, sedangkan transisi ke 64 bit juga baru dimulai dua tahun lalu. Sementara sistem komputerisasi sudah semakin tertanam dalam hampir sebagian besar perangkat yang sebelumnya dikendalikan secara elektronik dan sekarang sudah semakin sulit dikenali satu per satu lagi.

Inilah Pesawat yang Akan Membawa "Astronot" Pertama Indonesia ke Antariksa

Inilah Pesawat yang Akan Membawa "Astronot" Pertama Indonesia ke Antariksa

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 AXE Apollo Space Academy (AASA) National Space Camp yang digelar oleh salah satu produsen pewangi pria akan memberangkatkan 23 "astronot" ke antariksa. Salah satu astronot itu berasal dari Indonesia, namanya Rizman Adhi Nugraha.

Pria kelahiran "Negeri Laskar Pelangi" ini bakal menjadi astronot pertama Indonesia jika program ini berjalan sukses.

Rizman merupakan yang pertama menggunakan pesawat ulang alik XCOR Lynx Mark II, milik XCOR Aerospace. Setelah itu, perusahaan itu akan mengomersialkan perjalanan ke luar angkasa pilihan wisata untuk orang orang berkocek tebal.

Dikutip dari situs XCOR.com, pesawat Lynkx Mark II adalah pesawat yang didesain untuk membawa manusia ke luar angkasa secara bolak-balik. Pesawat itu bisa digunakan kembali untuk mengangkut penumpang lainnya atau disebut dengan reusable launch vehicle (RLV).

Lynkx Mark II berkapasitas dua orang dan mampu terbang ke luar orbit hingga berjarak 100 km. Konsep RLV memang terbilang baru karena selama ini penerbangan pesawat ulang alik lebih banyak menggunakan roket sekali jatuh, lalu pesawatnya mengangkasa secara terpisah.

Pesawat ulang alik canggih ini diklaim bisa digunakan untuk empat kali penerbangan sehari. Untuk Rizman, bila 23 orang,bisa jadi ada beberapa kali penerbangan dalam sehari.

Pesawat ini juga diklaim terjamin keamanannya serta biaya perawatannya yang tidak terlalu mahal. Semua komponennya didesain untuk bisa bertahan menembus atmosfer dengan sistem perlindungan panas di hidung pesawat. Sayapnya sepanjang 9 meter dan didesain agar bisa mendarat dengan kecepatan 90 knot.

Ilmuwan Temukan Cara Memprediksi Waktu Kematian

Ilmuwan Temukan Cara Memprediksi Waktu Kematian


 
 
 
 
 
 
 
 
 
Ilmuwan menemukan cara memperkirakan waktu kematian yang lebih akurat. Cara baru tersebut memungkinkan ilmuwan menetapkan waktu kematian hingga 10 hari setelah meninggalnya seseorang.

Hasil temuan yang dipaparkan dalam pertemuan tahunan Society of Experimental Biologi di Praha pada Rabu (1/7/2015) itu merupakan terobosan berarti. Selama ini, waktu kematian ditetapkan dengan pengukuran suhu, yang hanya bisa akurat hingga 36 jam setelah meninggalnya seseorang.

Tim ilmuwan mempelajari protein otot pada babi. Berdasarkan karakteristiknya, otot babi memiliki kemiripan dengan otot manusia. Otot terdiri dari molekul-molekul protein yang akan mengalami penguraian ketika seseorang meninggal.

"Ini terjadi pada protein tertentu dan pada waktu tertentu," kata Peter Steinbacher yang melakukan penelitian. "Bahkan produk dari penguraiannya itu hanya bisa dijumpai pada waktu tertentu."

"Jadi, bila Anda tahu produk apa yang terdapat pada sebuah sampel, maka Anda akan tahu kapan individu tersebut meninggal," ungkap peneliti dari University of Salzburg itu seperti dikutip BBC, Rabu kemarin.

Steincbacher dan tim menganalisis lebih dari 60 sampel jaringan otot dari departemen forensik di University of Salzburg. Hasil riset menunjukkan, prediksi waktu kematian dengan analisis protein yang terdapat pada sampel cukup akurat.

"Kita sekarang butuh lebih banyak sampel untuk mengetahui apakah jender, indeks massa tubuh, suhu, kelembaban, dan lainnya memengaruhi waktu perombakan protein otot," kata Steinbacher. Ia berharap dalam tiga tahun metode barunya bisa diaplikasikan dalam forensik.

Ilmuwan Berjilbab Asal Iran Ini Diprediksi Menjadi Einstein Masa Depan

Ilmuwan Berjilbab Asal Iran Ini Diprediksi Menjadi Einstein Masa Depan

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Einstein begitu mengagumkan. Dia bukan hanya ilmuwan hebat yang gagasannya terus dipakai hingga saat ini, melainkan juga ilmuwan yang pandai "meramal". Banyak teorinya pada masa lalu yang kini dibuktikan kebenarannya lewat riset.

Tahun 1916, Einstein memprediksi bahwa pulsar akan menarik bintang katai putih yang mengorbit dengan kecepatan 7 mm per hari. Seiring penemuan sistem pulsar dengan dua obyek pada tahun 2003, ilmuwan membuktikan bahwa memang katai putih dalam pulsar itu mendekat dengan kecepatan 7 mm.

Nah, siapa kira-kira akan menjadi Einstein pada masa depan, pintar "meramal", dan terus dipakai gagasannya? Sparrho, sebuah perusahaan analis di Inggris, menyatakan bahwa salah satu kandidat Einstein masa depan adalah ilmuwan berjilbab asal Iran, Zahra Haghani.

Sparrho bekerja sama dengan British Library untuk melihat semua data ilmuwan yang riset dan karya tulisnya terkait dengan gagasan-gagasan Einstein. Data begitu banyak, mulai dari tahun 1890 hingga saat ini.

Haghani kini adalah asisten profesor di Damghan University, Damghan, Iran. Dia adalah ilmuwan yang meraih gelar doktor dari universitas lokal, Shadid Beheshti University, pada tahun 2013 lalu.

Melacak Google Scholar, ada banyak sekali makalah yang ditulis Haghani dan dikutip oleh ilmuwan lain. Sementara itu, di situs universitasnya, tercatat bahwa Haghani telah memublikasikan delapan makalah di jurnal internasional sejak tahun 2011. Tiga makalah lainnya "mengantre".

Salah satu makalahnya yang menarik berjudul "Matter may matter". Haghani dalam makalah itu menguraikan bahwa gabungan antara apa yang disebut Ricci tensor, energi, dan momentum tensor bisa menerangkan pengembangan alam semesta tanpa bergantung pada materi gelap.

Ghani bukan satu-satunya ilmuwan yang diprediksi menjadi Einstein masa depan. Empat orang lainnya yaitu Shinji Tsujikawa dari Tokyo University, Hajime Sotani dari Observatorium Nasional Jepang, Nikodem Poplawski dari University of New Haven, dan Brian Pitts dari Cambridge. Kapan bakal ada dari Indonesia?